Sabtu, 14 April 2012

Bahasa Indonesia Baku dan Nonbaku


PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAKU
1.        Pengertian Bahasa Indonesia yang Baku
Menurut buku Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X, bahasa baku adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pedoman yang digunakan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Pedoman Pembentukan Istilah, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Istilah bahasa baku dalam bahasa Indonesia dalam dunia ilmu bahasa atau linguistik pertama sekali diperkenalkan oleh Vilem Mathesius pada 1926. Dia  mengartikan bahwa bahasa baku sebagai bentuk bahasa yang telah dikodifikasi, diterima dan difungsikan sebagai model atau acuan oleh masyarakat secara luas.
Di dalam Logman Dictionary of Applied Linguistics, Richard, Jhon dan Heidi mengrtikan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang berstatus tinggi di dalam suatu masyarakat atau bangsa dan biasa didasarkan penutur asli yang berpendidikan di dalam berbicara dan menulis.
Di dalam Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan, Yus Rusyana mengartikan bahwa bahasa baku atau bahasa standar adalah suatu bahasa yang dikodifikasikan, diterima, dan dijadikan model oleh masyarakat bahasa yang lebih luas.
Kesimpulannya, bahasa Indonesia baku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang bentuk bahasanya telah dikodifikasi, diterima, dan difungsikan atau dipakai sebagai model oleh masyarakat Indonesia secara luas dan biasanya digunakan untuk keperluan resmi seperti dalam perundang-undangan, dunia pendidikan, upacara resmi.

2.      Pengertian Bahasa Indonesia yang Tidak Baku
Para ahli mengemukakan bahwa bahasa nonbaku  adalah bahasa yang digunakan dalam berbicara dan menulis yang berbeda pelafalan, tatabahasa, dan kosakata dari bahasa baku dari suatu bahasa.
Suharianto berpengertian bahwa bahasa nonstandar atau bahasa tidak baku adalah salah satu variasi bahasa yang tetap hidup dan berkembang sesuai dengan fungsinya, yaitu dalam pemakaian bahasa tidak resmi.
Kesimpulannya, bahasa Indonesia nonbaku adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang tidak dikodifikasi, tidak diterima dan tidak difungsikan sebagai model masyarakat Indonesia secara luas, tetapi dipakai oleh masyarakat secara khusus dan digunakan dipakai untuk keperluan tidak resmi seperti yang dipakai dalam surat menyurat antara orang yang akrab, sapa-menyapa antara orang tua dan anak-anaknya, tawar-menawar di toko, dan di pasar.

3.      Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku
Ciri-ciri ragam bahasa baku, yaitu, sebagai berikut:
1.       Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum resmi seperti seminar atau rapat.
2.       Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan tidak dapat berubah.
3.      Bersifat kecendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur.
4.      Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan ragam bahasa, melainkan kesamaan kaidah.
5.      Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau asing.[1]
4.      Kesalahan Berbahasa
Penelitian yang  dilakukan di Pusat Pengembangan dan Pelatihan Bahasa (P3 Bahasa) Universitas Sanata Dharma Yogyakart mengenai kesalahan-kesalahan berbahasa menyimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan berbahasa yang sering dilakukan oleh pembelajar diklasifikasikan dalam kelompok-kelompok, antara lain:

1.      ketidakefektifan kalimat
contoh yang salah:
a.    Kami juga mengunjungi orang Jawa di pabrik batik ialah pengalaman lain yang saya mau itu paling baik supaya melihat-lihat jenis berbeda batik.
b.   Sering keluarga yang dari daerah pedalaman tinggal di luar kota lama dan banyak adalah petani.
Seharusnya:
a.   Keluarga dari daerah pedalaman, yang sebagaian besar adalah petani,  sering tinggal di luar kota untuk waktu yang lama.
b.   Kami  mengunjungi orang Jawa di pabrik batik untuk melihat jenis-jenis batik yang berbeda. Kegiatan itu merupakan  pengalaman lain yang paling baik bagi kami.

2.      kesalahan pemilihan kata
contoh yang salah:
a.    Menurut tradisi, orang Batak adalah petani nasi tetapi pada waktu sekarang ekonomi Batak sangat beruntung pada karet dan kopi.
b.   Situasi ini pusing untuk anak-anak dan bisa sangat mempengaruhi mereka.
Seharusnya:
a.   Menurut tradisi, orang Batak adalah petani padi, tetapi  sekarang ekonomi masyrakat Batak lebih baik dengan perkebunan karet dan kopi. 
b.   Situasi ini membingungkan anak-anak dan  sangat mempengaruhi mereka.

3.      kesalahan penggunaan afiks
contoh yang salah:
a.      Mungkin mayoritas orang Indonesia merasa kecemburuan kepada orang asing.
b.      Dia menyuruh Kunto menanyakan polisi.
Seharusnya:
a.       Mayoritas orang Indonesia merasa cemburu kepada orang asing.
b.      Dia menyuruh Kunto bertanya kepada polisi.

4.      tidak lengkapnya fungsi-fungsi kalimat
contoh yang salah:
a.      Di keraton menarik dan indah tetapi cuaca lembab dan panas.
b.      Menurut  orang yang diwawancara di Indonesia ada yang bermacam-macam di dapatkan daerah ke daerah
Seharusnya:
a.       Keraton Yogyakarta  menarik dan indah tetapi cuaca hari ini  lembab dan panas.
b.      Menurut  orang yang saya wawancarai,   Indonesia mempunyai  bermacam-macam kesenian yang berbeda di setiap  daerah

5.      pembalikan urutan kata
contoh yang salah:
Jamu saset belum komplit harus dicampur dengan lain bahan-bahan seperti beras kencur, anggur merah, madu, dll.
Seharusnya:
Jamu saset yang belum komplit harus dicampur dengan bahan-bahan lain seperti beras kencur, anggur merah, madu, dll.

6.      kesalahan pemakaian konjungsi
Konjungsi berfungsi sebagai penghubung frasa dan klausa dalam kalimat. Selain itu, konjungsi juga berfungsi sebagai penghubung antarkalimat dalam suatu paragraf. Kesalahan penggunaan konjungsi ini akan berakibat tidak jelasnya makna kalimat karena hubungan antarfrasa dan antarklausa tidak jelas
contoh yang salah:
Oleh sebabnya, apabila dihadapkan pada praktek di lapangan kerja, didikan kurang memuaskan.

Seharusnya:
Apabila dihadapkan pada praktek di lapangan kerja, anak didik kurang memuaskan

7.      ketidaktepatan pemakaian  yang
contoh yang salah:
Menurut teman saya, TKA mempunyai peran yang penting sekali di dalam bisnis dan proyek-proyek karena bisa membantukan masyarakat dan prasarana lokal
Seharusnya:
Menurut teman saya, TKA mempunyai peran penting sekali di dalam bisnis dan proyek-proyek karena bisa membantu masyarakat dan prasarana lokal.

8.      kesalahan dalam pembentukan jamak
contoh yang salah:
Kami didampingi oleh guru pribadi naik bis ke bermacam-macam tempat wisata seperti,  Keraton, Taman Sari, dan pasar burung yang terletak di belakang Taman Sari.
Seharusnya:
Kami didampingi oleh guru pribadi naik bis ke bermacam-macam trmpat-tempat wisata seperti Keraton, Taman Sari, pasar burung yang terletal di belakang Taman Sari.




Daftar Pustaka
Ø  Rusyana, Y, 1984, Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan, Dipenogoro, Bandung.
Ø  Moeliono, A, M, 1975, Sosiolinguistik, Angkasa, Bandung.
Ø  Poerwadarminta, W.J.S, 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.
Ø  Depdikbud, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,Jakarta.
(dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia semester 2)



[1] Dikutip dari buku Bahasa Indonesia Untuk SMK/MAK Semua Program Keahliaan Kelas X, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Halaman 10

Minggu, 08 Januari 2012

check this out!

Nasrani : “Boleh bertanya? Mengapa Rasul anda menikahi 11 atau 12 orang wanita? Ini menunjukkan bahwa ia adalah orang yang suka mengumbar nafsu (seks).”

Muslim : "Pertama, Tolong beritahu saya, orang yang menikah karena nafsu (seks) akan memilih gadis atau janda?"

Nasrani : "Ia akan memilih gadis."

Muslim : “Wanita pertama yang dinikahi Rasulullah adalah Khadijah binti Khuwailid yang berstatus janda dan berusia 40 tahun.
Kedua, pada usia berapakah nafsu seksual meledak-ledak?"

Nasrani : "Kurang lebih mulai dari usia 16 tahun sampai 40 tahun, sebagai usia kesempurnaan bagi kejantanan dan kematangan akal."

Muslim : "Rasul kami tidak menikah dengan wanita lain setelah Khadijah, kecuali setelah usia beliau mencapai 50 tahun. Jadi, masalahnya adalah untuk kepentingan penetapan syari’at dan hikmah, bukan syahwat/nafsu.”

Nasrani : "Baiklah... Jika bukan syahwat, kenapa harus menikahi wanita sebanyak itu, 11 atau 12 wanita? Kenapa tidak satu, dua atau empat?"

Muslim : "Kenapa anda mempermasalahkan Rasul kami? Sedangkan Rasul2 kalian tidak kalian permasalahkan juga?!
Bukankah anda beriman kepada Nabi Sulaiman? Padahal dalam kitab suci kalian disebutkan bahwa Nabi Sulaiman beristrikan 1000 orang wanita. (Disebutkan di dalam I Raja-Raja [11:2,3]: "...Hati Solomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik...").
Begitu juga dengan Nabi kalian yaitu Rehabeam yang memiliki 78 istri. (Disebutkan dalam II Tawarikh: "Rehabeam mencintai Maakha, anak Absalom itu, lebih daripada semua istri dan gundiknya, ia mengambil delapan belas istri dan enam puluh gundik...").
Maka bandingkanlah dengan jumlah istri dari Rasul kami yang hanya berjumlah 12 orang, mana yang terbanyak?
Bagaimana anda mencela poligami Nabi kami dan mencacinya? Dan anda menganggap ini adalah aib dari kedudukan kenabian? Sementara kitab kalian sendiri telah menyebutkan poligami dari Nabi-nabi besar kalian, dan kalian menganggapnya wajar?!"

Nasrani : "Hmm...Lalu kenapa juga Rasul anda menikahi gadis dibawah umur, yaitu Aisyah yang dinikahi pada usia 6 atau 9 tahun? Bukankah itu adalah aib juga?"

Muslim : Bagaimana halnya dengan kehidupan kalian sendiri, yang mana wanita2 kalian telah banyak melakukan hubungan intim diluar nikah pada usia dibawah sepuluh tahun? Hal ini sudah diakui oleh berbagai media. Lantas kenapa anda mempermasalahkan Nabi kami yang menikahi wanita dibawah umur, sedangkan wanita2 kalian sendiri sangat banyak yang melakukan perzinahan dibawah umur? Mana yang lebih aib?"

Nasrani : "Anggaplah wanita2 kami adalah oknum, jadi tidak bisa dijadikan landasan. Adapun Nabi anda adalah seorang yang suci dan mulia, tapi berbuat seperti itu? Lihatlah perbedaan usia yang sangat jauh tatkala Nabi anda menikahi Aisyah yang baru berusia 6 tahun sedangkan Nabi anda berusia 50 tahun, selisih 44 tahun!!"

Muslim : "Apakah anda lupa atau tidak tahu terhadap sejarah Maria 'Si perawan suci'? Pada usia berapa dia menikah di dalam sejarah kalian?
Maria menikah dengan Yoseph ketika usia 12 tahun! Bukankah itu juga dibawah umur?? Sedangkan Yoseph waktu itu sudah berusia 89 tahun (disebutkan dalam Ensiklopedi Katolik). Usia mereka selisih 77 tahun!! Perbedaan yang sangat jauh sekali dibandingkan dengan Nabi kami."

Nasrani : "Baiklah... Kami menyerah pada anda dalam konteks Nabi anda, lalu mengapa anda (umat Islam) menikahi 4 orang wanita? Ini adalah penghinaan bagi wanita?!”

Muslim : "Masyarakat Barat sekarang ini, seorang laki-laki menikahi satu orang wanita saja, tetapi berhubungan intim secara ilegal (haram) atau selingkuh dengan sejumlah wanita, baik teman maupun pacar gelap. Data statistik kontemporer di Barat menunjukkan bahwa populasi wanita lebih banyak daripada laki-laki. Hubungan intim yang dilakukan laki-laki membuat kaum wanita hanya sebagai tempat pelampiasan nafsu saja. Lalu setelah si laki-laki menyalurkan libidonya, maka si wanita menjadi tidak berharga lagi baginya. Penghinaan terhadap wanita seperti apa yang lebih dahsyat dari itu?!
Sedangkan agama kami mengharuskan kami untuk memperlakukan semua istri secara ma’ruf (baik) dan memberikan hak-hak mereka secara adil. Selain itu, wanita juga harus diposisikan sebagai bagian dari laki-laki, karena wanita adalah rumahnya, tempat tinggalnya dan pakaiannya. Itu adalah ikatan yang kuat di mana wanita dapat menemukan kehormatannya dan merealisasikan kewanitaannya. Jadi, manakah yang lebih agung dan lebih mulia, wahai para dokter sekalian?!”

Nasrani : *glek!*

coppast dari: @fenda_florena

Minggu, 01 Januari 2012

Mr. X

2 days left.
iyaaa, gue sadar, tanggal 3 januari 2012 gue musti balik kekosan dan menyambut tanggal 5 dengan kepastian bahwa hari itu ada 2 uas mata kuliah. ohmygod!
masih hangat dalam ingatan gue, 2 hari yang lalu secara sengaja gue ketemuan sama mr. x. setelah 1 tahun kita belom pernah ketemu dan ngobrol-ngobrol lagi sejak break (ciee break, berasa rafi-yuni). selain karna sibuk sama dunia masing-masing, gue juga ga berani ngusik kehidupan dia ama cewe barunya. yang kebetulan cewenya itu  pencemburu parah, alhasil selama itu gue ga pernah berani sms my mr x tersebut. dan saking dia ga mau gue ada dikehidupan cowonya (a.k.a: my mr x) sampe-sampe -di facebook- itu cewe remove gue di akun pertemanan antara gue dengan mr x . how dare she is :((
kembali ke pertemuan, sore itu gue jalan sama dia. niatnya mau nonton, tapi karna telat sampe di 21, tanpa buang waktu, kita makan di foodcourt. pada dasarnya kita sama-sama enjoy, ga kaku, dan obrolan mengalir sambil nunggu pesenan makanan sampe tepat diatas meja yang kita tongkrongin saat itu. ngobrol ngalor-ngidul, tentang kuliah gue, skripsi dia, keluarga gue, keluarga dia, dan akhirnya sampai pada ngomongin kronologis berakhirnya hubungan dia dengan simantan. lah ini judulnya: curhat tentang si mantan ke sang mantan. *bingung*
kalo di inget-inget, hari itu emang ajaip! ga nyangka gue bisa jalan lagi setelah sekitar 12 bulan ga ketemu. ngobrol santai layaknya teman lama tak berjumpa. tapi satu hal yang gue rasain, bahwa tu orang masih sama kayak dulu. chemistry-nya dapet, dan tentu jayusnya masih luar biasa. xixixi
gada yang gue tutupin dari dia soal perasaan gue sekarang gimana, dia tau kalo gue masih single, dan ga berniat punya pacar, karna yang gue cari bukan pacar, tapi calon suami. Haha!
intinya, gue merasa comfort berteman dengan siapapun -meskipun dengan mantan pacar yang mantan cewenya pernah bikin keki abis. *ups!